MENG-'IKUTI' EDANE Saya meluncur ke arah pusat ibukota menunggang Zulficar --julukan buat corolla tua saya-- dari arah Cibitung. Lagi nggak mujur rupanya, macet habis daerah pintu tol situ, saya harus berbelok menyusuri Pantura menuju pintu tol berikutnya, Bekasi Timur. Pernah sudah saya tinggal di daerah Bekasi Timur --di rumah kakak saya-- sekitar 3 tahun. Gak papa musti menyusuri pantura karena saya punya kenangan yang bisa di gali sepanjang jalanan di Bekasi Timur ini. Sepanjang jalan player di mobil memutar lagu - lagu koleksi grup rock lokal yang hendak saya tonton : EDANE yang dibesut dua sobat Eet Syahranie dan Fajar Satritama. Sudah lebih seminggu ini kuping saya dijejali lagu - lagu mereka, yang makin kesini makin bernuansa ritem, melodi-nya setengah tersisih. Di rumah, di kantor, dan di mobil semua player saya memutar lagu - lagu Edane. Bagi saya pribadi Eet adalah gitaris handal Indonesia. Salah satu debut awalnya adalah mengerjakan album 'Living In The Western World' - nya Fariz RM, kemudian band proyek Gank Pegangsaan dengan Keenan Nasution. Dengan sobatnya drummer Fajar juga pernah bikin grup rock eksperimental Cynomadeus sebelum akhirnya join ke grup besar Godbless menggantikan legenda Ian Antono. Dan Edane akhirnya lahir untuk mengisi luapan kreativitas Eet Syahranie dengan album perdananya yang benar - benar amazing : The Beast. Album yang seingat saya rilis tahun 90-an ini memang beda dengan album rock Indonesia lainnya. Dari sisi musiknya sudah bisa disejajarkan dengan grup bule, walau masih terlalu mengekor grup besar Van Halen. Maklum, setau saya Eet adalah murid sekolahan Eddie Van Halen. Yang perlu dicatat adalah album ini memiliki visi meng-go internasional-kan rock Indonesia, sejajar dengan karya musik cadas dunia. Anda boleh baca di prakata album The Beast ini. Alhamdulillah Tol Pondok Gede Utama dimana saya harus bayar tidaklah terlalu antri, saya terus melaju dengan lega sampai akhirnya papan informasi tol menunjukkan bahwa tol arah Kebon Jeruk macet, padahal tujuan saya senja ini adalah Hard Rock Cafe. Fuh ! Saya tidak ambil resiko, Zulficar saya paksa pindah jalur untuk menyusur jalur tol Priuk. Jalur ini lumayan lancar, tetapi posisi saya berseberangan dengan target. Bahkan hingga menyusur Kwitang-pun rasanya lega - lega saja. Memang seputar jalanan Menteng merayap dan membuat saya memutuskan untuk segera rest sebentar di mesjid Cut Mutia nan megah itu. Ya salah satunya karena memang sudah tiba waktu adzan maghrib. Solat maghrib di mesjid ini cukup mengasyikkan, sakral gitu. Kayaknya itu bekas gereja. Kubahnya megah. Juga saya terpesona dengan keindahan kaligrafi di sepanjang dindingnya yang setinggi audzubillah itu... penuh kaligrafi, yang bila saya ikuti terus mungkin bisa dua - tiga jam saya disitu. Pokoknya menurut saya mesjid ini eksotis banget. Selain menikmati keindahan interior, saya juga berjalan kaki memutari sisi luar pagar mesjid yang berdekatan dengan stasiun kereta api. Olala ! Elok nian di senja kala itu ! Saya sempat mengambil sekitar sepuluh gambar dengan kamera saya, setelah itu saya segera masuk mobil melepas baju seragam kerja dan berganti dengan kaos keluaran supporter kesebelasan kampung saya: AREMA Singo Edan, hasil kado adik. Lantas saya cabut masuk ke kawasan jalan Thamrin, 'Time to Rock ! Guys....'. Yah. Macet ! Maklum, regulasi 3 in 1 sudah lewat. Saya terkunci di dekat Sarinah, yang membuat saya memutuskan untuk parkir saja di situ. Pesan Pendek dari rekan yang meng-order tiket buat saya membuat saya ingin sesegera mungkin tiba di Hard Rock Cafe. Saya bukan orang yang sering nongkrong di cafe, jadi total jendral ketiga kalinya inilah saya melewati portal pintu Hard Rock. Tiga tempat lagi ! Sekali di Hard Rock Sarinah. Sekali di sini, Hard Rock EX-Plaza pindahan Sarinah. Dan dulu sekali pernah ke Hard Rock Singapura pas jaman lajang. Saya tau acara yang bakal saya tonton ini adalah acara fenomenal, maka saya sengaja beli tiket pakai kartu kredit, disamping duit cash terbatas, slip kartu kredit bisa di simpan sebagai koleksi dan bukti bahwa saya pernah nonton konser Edane di sini. Oleh seorang rekan milis yang ternyata adik kelas, saya dipilihkan seat di lantai atas, depan pojok kiri. Pas banget sudut tontonnya. Waduh ! Rupanya selain molor, pertunjukan kali ini benar - benar nge-rock. Suasana menjelang libur panjang keesokan harinya sungguh pas dengan tontonan semalam suntuk ini. Sebelum Edane manggung, ada penampilan lima grup cadas lainnya. Menurut saya ini agak kebanyakan. Napas saya bisa habis sebelum partai akhir yang partai puncak itu. Saya harus simpan energi. Sekitar setengah jam sebelum Edane manggung, saya sudah lihat Eet Syahranie yang berkaos hitam - bercelana 3/4 ada di bangku dekat saya duduk. Khawatir saya kehilangan tempat strategis buat nonton, maka saya mengurungkan niat saya untuk foto bareng gitaris paling hebat yang pernah dimiliki Indonesia ini. Sekelebatan orangnya kelihatan friendly banget. Ya benar saja. Edane manggung lewat tengah malam, setelah hampir sebagian orang kehabisan separoh energi-nya. Eet sang gitaris yang dulunya sering bertuksedo - celana jeans mirip gurunya : Eddie Van Halen, kini memakai celana 3/4. Kalau pake topi dan ber-jas mungkin sudah mirip aksi Angus Young, gitaris grup musik AC/DC. Kaos Eet memang bergambar AC/DC kali ini. Edane menghajar beberapa lagu dengan hebatnya. Saya sungguh terpukau ketika ada solo gitar berjudul 'Evolusi' yang lantas dirangkai dengan lagu 'Ikuti'. Lagu 'Ikuti' ini memang lagu 'kebangsaan teman - teman saya di Malang dulu. Kali ini saya dari teras atas panggung merekamnya dengan kamera, dan saya-pun berteriak - teriak mengikuti syairnya. Lagu ini memang salah satu idola yang tak luntur jaman. Musikalitas Edane patut diacungi jempol. Semua personilnya jagoan termasuk vokalis baru yang subur badannya itu, apalagi Eet. Dari lantai atas terlihat jelas bahwa penguasaan panggung Eet sebagai frontman benar - benar aktraktif. Dengan cordless guitarnya, Eet berlarian kesana - kemari tanpa lelah di panggung yang berbentuk huruf T itu. Gaya 'nyengklak becak'-nya (entah saya harus menyebut apa bila Eet berjalan melompat dengan satu kaki ditendangkan ke depan) itu masih menjadi ciri khasnya. Termasuk ketika sambil tersenyum Eet berlari secepat mungkin menjangkau mikrofon untuk mengisi vokal latar yang hampir kelupaan di lagu 'Kau Pikir Kau-lah Segalanya'. Mungkin Eet hampir alpa karena terlalu asyik meliuk-liukkan gitarnya. Dan dugaan saya cukup tepat, Eet sangat friendly di panggung. Senyum sana - sini menyapa penonton, tanpa musti kehilangan kegarangan permainan gitarnya. Andai di ujung panggung itu berhimpit dengan meja penonton, bisa jadi Eet akan melompat dari panggung dan beraksi di atas meja. Grup yang gonta - ganti vokalis ini rasanya tetap saja kukuh selagi masih ada Eet dan Fajar. Edane memang edan. Dan lewat pukul satu dini hari, barulah pertunjukan hingar - bingar itu dinyatakan bubar. Saya tidak mengikuti acara ramah - tamah, mau langsung pulang. Di sepanjang jalan dengung raungan gitar Eet masih tersisa. Pukul setengah tiga pagi saya tiba di rumah dan dengan merasa berdosa saya telat menunaikan sholat Isya'. Sebagian penonton mungkin masih terngiang - ngiang lagu AC/DC 'You Shook Me All Night Long' yang begitu enerjik dibawakan Edane, --soalnya saya dengar beberapa penonton masih bersenandung lagu tersebut di pelataran parkir-- namun menjelang saya tidur masih terngiang penggalan lagu lain dari konser yang baru lalu,'...mari sini ikuti aku !... nyanyikan lagu... lagu yang beranii !!!'.[] haris fauzi - 17 Agustus 2006 salam, haris fauzi www.kenisah.solid.or.id kenisah.blogspot.com