Lapangan kerja bidang Teknologi Informasi di luar negeri -- oleh: Budi Rahardjo -- Banyak orang di Indonesia kesulitan mencari kerja, sementara itu katanya di luar negeri banyak lowongan kerja terutama untuk bidang yang berhubungan dengan teknologi informasi, bidang "high-tech". Betulkah demikian? dan apa mungkin saya bekerja di luar negeri? Bulan Desember 2000, tepatnya tanggal 4 Desember, saya sempat mengunjungi sebuah "job fair" di Santa Clara, California, Amerika Serikat. Santa Clara ini merupakan salah satu kota di Silicon Valley, yang padat dengan teknologi tinggi. Dari San Francisco saya menggunakan Caltrain menuju Santa Clara dan kemudian disambung dengan bis ke Convention Center, tempat diselenggarakannya acara tersebut. Sekitar dua jam kemudian saya tiba di tempat tersebut. Job fair ini merupakan salah satu acara (events) yang dikoordinir secara berkala oleh Brassring (situs: http://www.brassring.com), salah satu situs yang mengelola sumber daya manusia. Oleh Brassring, acara ini disebut juga "Brassring Career events". Acara tersebut diselenggarakan di sebuah ruangan besar di Santa Clara Convention Center. Ratusan perusahaan menunggu di stand (booth) berukuran sekitar 3x2 meter persegi. Setiap perusahaan menampilkan informasi tentang perusahaan mereka dan daftar lowongan pekerjaan yang tersedia. Kadang-kadang mereka memberikan ballpoint, marker, kaos, dan mainan untuk menarik pengunjung ke stand mereka. Para pengunjung dapat langsung berdiskusi, menyerahkan resume (CV), dan langsung membuat schedule untuk wawancara. Bahkan ada yang langsung diterima kerja di tempat tersebut. (Hire on the spot.) Kebetulan pada saat itu kebanyakan yang dicari adalah programmer dan IC (Integrated Circuit) designer. Waaaah..., bidang saya memang bidang VLSI IC Design (Very Largse Scale Integration). Itu lho yang membuat chip seperti processor Pentiumnya Intel. Kelihatannya trend yang sedang terjadi adalah orang atau perusahaan ingin membuat perangkat networking seperti produk dari Cisco. Untuk itu memang dibutuhkan banyak orang yang dapat membuat program dalam level C, C++ dengan real-time OS dan memiliki latar belakang (pengetahuan) di bidang telekomunikasi dan networking. Lowongan webmaster, UNIX administrator pun tidak sedikit. Tak kurang sepinya adalah lowongan technical writter. Jenis-jenis lowongan pekerjaan yang ditawarkan sangat banyak dan kalau saya tuliskan mungkin daftar tersebut sepanjang artikel ini. Nah, kalau melihat situasi seperti itu sangat mengenaskan jika orang Indonesia yang bergerak di bidang Teknologi Informasi tidak bisa menggaet pekerjaan semacam itu. Masalahnya memang tidak mudah. Mungkin memang kemampuan hasil perguruan tinggi di Indonesia tidak memadai? Berapa banyak sih perguruan tinggi di Indonesia yang mampu menghasilkan "software engineer" yang handal? Mungkin di Indonesia baru mampu menghasilkan programmer kelas papan bawah? Jika memang anda programmer atau software engineer yang handal, apakah anda mengenal istilah-istilah ini: lex, yacc, compiler construction, grammer, token, CMM, dan sebagainya? Selain masalah teknis ada juga masalah bahasa Inggris. Seringkali saya menjumpai orang yang memiliki kemampuan teknis akan tetapi bahasa Inggrisnya sangat jauh dari memuaskan. Mau tidak mau, bahasa Inggris merupakan bahasa yang harus kita kuasai. Pekerja dari India, Singapura, dan Malaysia tidak memiliki kendala di bahasa ini, meskipun pekerja dari Cina mengalami masalah yang sama dengan yang kita hadapi. Pekerja dari Indonesia sebenarnya mulai disukai oleh perusahaan di kawasan Asia karena ada beberapa masalah dengan pekerja dari negara lain. Misalnya, Hongkong membatasi jumlah pekerja dari Cina (padahal satu negara). Sementara pekerja dari India kurang disukai karena mereka menggunakan negara Asia hanya sebagai batu loncatan untuk bekerja di Amerika. Pekerja Indonesia juga dikenal (sebagian besar) akan pulang setelah pekerjaan kontrak selesai sehingga tidak menjadi beban negara yang ditempati. (Tidak menjadi warga negara.) Jadi sebenarnya kesempatan Indonesia cukup baik. Asumsi memang anda memiliki kualitas dunia, tapi tidak punya akses ke luar negeri. Bagaimana cara untuk masuk ke pasar dunia tersebut? Untungnya sekarang lebih mudah daripada dahulu. Di Indonesia ini mulai muncul perusahaan TKI yang memfokuskan di bidang IT. Salah satu contohnya adalah perusahaan PT Work IT Out (situs: http://www.workitout-online.com), dimana saya ikut terlibat di dalamnya. Misi kami adalah mempermudah pengiriman tenaga kerja Indonesia yang berkualitas ke luar negeri. Nah, masalahnya tetap: apakah anda memiliki kualitas ini?