Business Model or Super Model [Model Bisnis atau Model Super] -- oleh: budi rahardjo -- Bulan Desember (2000) yang lalu saya berjalan-jalan di Silicon Valley. Tujuan utamanya adalah untuk membuat link riset antara lembaga riset di Indonesia dengan perusahaan dan lembaga riset di luar negeri. Kebetulan di sana ada beberapa kawan saya semasa sekolah di Kanada yang tinggal di daerah Silicon Valley. Kebetulan pula pada waktu itu ada acara kumpulan orang Kanada di Silicon Valley yang tergabung dalam sebuah komunitas yang disebut "Digital Moose Lounge". (Lihat web sitenya di http://www.digitalmooselounge.com) Acara kumpul-kumpul dilakukan di Hotel Double Tree, dekat San Jose Airport. Hari esoknya ada acara seminar yang digelar dengan nama "The Next Level [2]". Dalam acara seminar ini dipresentasikan beberapa topik yang berhubungan dengan bisnis di Silicon Valley. Perlu diingat bahwa banyak orang Kanada di Silicon Valley yang sama statusnya dengan orang Indonesia, yaitu sama-sama orang asing. Banyak di antara mereka yang bekerja dengan menggunakan visa H1. Seminar ini dijalankan untuk saling tukar menukar ide dan membantu orang Kanada (Canadians) lainnya. (Hmm... semestinya orang Indonesia juga melakukan hal yang sama ya?) Salah satu topik yang didiskusikan adalah "business model". Bahkan judul salah satu pembicaranya (Jay Diamond dari Mediadome.com) adalah "Business Model or Supermodel?". Hmmm... ada gadis supermodel? Tentunya tidak. Ini hanya sekedar untuk menarik pengunjung. Inti utama yang disampaikan dalam sesi ini adalah bahwa model bisnis dari sebuah perusahaan startup di bidang Teknologi Informasi (atau sering dikenal dengan istilah "dotcom", meskipun tidak semua perusahaan TekInfo dapat dikategorikan dotcom). selalu berkembang. Bahkan jika diperlukan, berubah haluan secara drastis. Atau perusahaan akan mati di tengah jalan. Ada tiga pembicara pada sesi itu dan kesemuanya sepakat pada pernyataan bahwa business model harus berkembang. Bisnis model beberapa perusahaan dotcom, misalnya, mengacu kepada advertising yang ukurannya berbasis kepada banyaknya jumlah pengunjung situs web, atau sering disebut pageview atau hit rate. Orang berlomba-lomba membuat situs web (atau portal atau apapun namanya di kemudian hari) dan mencoba menarik pengguna Internet untuk mengunjungi situs tersebut. Banyaknya pemirsa diharapkan dapat dikonversikan dengan banyaknya pembelian barang atau servis yang diiklankan melalui "banner" di situs web tersebut. Namun nampaknya model bisnis ini tidak cocok untuk semua pelaku bisnis. Ada yang bahkan mengatakan bahwa model bisnis ini tidak jalan. Namun ada yang sukses mengeksekusi model ini, yaitu Yahoo. Mungkin hanya Yahoo yang sukses. Lainnya terkapar. Model bisnis yang lain pun hampir sama. Semua sedang mencari-cari model bisnis baru dengan trend yang berubah-ubah. Misalnya ketika RedHat naik daun dengan mengadopsi konsep open source (mengkomersialkan Linux), maka ramai-ramai orang membisniskan open source. Software atau produk gratis, servis bayar. Nampaknya trend ini harus direvisi dengan turunnya nilai saham RedHat. Kemudian ketika Napster ngetop memberikan layanan searching dan mengambil MP3, banyak yang ikutan membuat servis seperti Napster. Kemudian ketika Napster mulai dituntut oleh perusahaan rekaman, maka yang lainnya menjadi surut. Hal lain yang sama adalah layanan jasa Internet (Internet Service Provider, ISP) sampai Application Service Provider (ASP). Kesemuanya masih mencoba-coba mencari business model yang pas. Mungkin kesuksesan Yahoo adalah kemampuannya mengubah model bisnis dan mengantisipasi trend. (Dengan mengakusisi perusahaan lain? Namun berapa banyak perusahaan yang memiliki keleluasaan seperti Yahoo ini?) Jika perusahaan anda ingin sukses di bidang dotcom ini, maka anda harus cepat tanggap, dapat mengantisipasi perubahan, dan yang penting mengimplementasi perubahan ini di tempat anda secepat mungkin. Perusahaan besar biasanya kurang memiliki sifat "agility" ini sehingga lambat berubah. Inilah sebabnya SME memiliki keuntungan dibanding perusahaan yang sudah "terlanjur" besar. Nampaknya belum ada business model yang pas di Internet ini. Mungkin lebih mudah mencari supermodel ya.